Sabtu, 01 Agustus 2009

MENURUTKAN SEJARAH LAMONGAN LEWAT PAWAI BUDAYA

MENURUTKAN SEJARAH LAMONGAN LEWAT PAWAI BUDAYA

Menuturkan Sejarah Lamongan Lewat Pawai Budaya

0 komentar
.fullpost{display:none;}
Menuturkan sejarah kota tidak harus dipaparkan lewat cerita lisan atau dengan bacaan. Pawai Budaya dalam perayaan Hari Jadi ke-440 tahun Lamongan menjadi sebuah sarana menuturkan sejarah Kabupaten Lamongan. Langkah ini merupakan bentuk kreasi seni sekaligus mengisahkan cikal bakal Lamongan tempo dulu.
Drama kolosal yang dikemas dalam pawai budaya kali ini mengambil start di depan Pendapa Lokatantra Lamongan, dibuka dengan drama tari yang menceritakan lintasan sejarah Lamongan. Drama tari ini dibawakan 80 mahasiswa asal Lamongan yang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya.
Tarian yang mengisahkan sejarah Kabupaten Lamongan terbagai dalam tiga babak utama, yakni era Kerajaan Majapahit, era Kerajaan Demak Bintoro hingga diwisudanya Rangga Hadi sebagai Adipati pertama Lamongan.
Babak pertama mengisahkan era Kerajaan Mjapahit di Lamongan yang ditandai dengan adanya Prasasti Bululuk (sekarang Bluluk). Prasasti itu menegaskan bahwa daerah yang bernama Bululuk adalah bumi mardikan. Di tanah atau bumi perdikan yang masyarakatnya dibebaskan dari tarikan pajak (upeti) oleh Kerajaan Majapahit.
Pada babak kedua beralih pada masa berkembangnya agama Islam di era Kerajaan Pajang hingga Kerajaan Demak Bintoro. Pada era inilah bangsa Portugis datang untuk menjajah Indonesia. Masa itu pecah perang melawan Kerajaan Demak Bintoro. Pada babak ini para penari menggambarkannya dengan Tari Kuntulan yang kental dengan budaya Islam dengan paduan suasana musik hadrah nan rancak.
Drama tari ditutup dengan babak diwisudanya Rangga Hadi, pemuda asal Dusun Cancing (Ngimbang) menjadi Adipati pertama Lamongan dengan dengan gelar Tumenggung Surajaya oleh Sunan Giri IV dari Mapel (Gresik). Pelantikan Rangga Hadi berlangsung pada 10 Dzulhijah atau 26 Mei 1569 Masehi bertepatan dengan Hari Idul Adha tersebut sebagai bagian dari strategi untuk menangkal masuknya Portugis.
Peserta pawai budaya kali ini dari 27 kecamatan di Lamongan dengan menampilkan 34 sajian budaya tersebut. Bupati Lamongan Masfuk dengan Wakil Bupati Tsalits Fahami Zaka serta Ketua DPRD Makin Abbas bersama istri turut ambil bagian memeriahkan pawai. Mereka berpakaian lengkap ala raja Jawa dan permaisuri. Sekretaris Kabupaten Lamongan Fadeli dan pejabat lainnya berpakaian adat khas Jawa Timuran lengkap.
Bupati Lamongan Masfuk sangat mengapresiasi pagelaran pawai budaya yang menampilkan berbagai kesenian yang bersumber dari nilai-nilai budaya lokal. Gelaran budaya seperti itu penting untuk perkembangan budaya lokal seiring dengan tumbuhnya wisata di Lamongan.
Masfuk berharap, budaya lokal yang ditampilkan mampu menarik animo generasi muda agar mampu mempertahankan dan mengembangkan budaya lokal Lamongan. Di masa mendatang saya berharap akan muncul seni-seni baru dari budaya lokal Lamongan, katanya.
Sehari sebelumnya ada tiga prosesi sakral mewarnai puncak peringatan Hari Jadi Lamongan (HJL) ke- 440 Lamongan. Prosesi itu menyangkut pembukaan selubung lambang daerah dan pemasangan Oncer Sesanti Memayu Raharjaning Praja di Gedung DPRD, upacara HJL di alun-alun Kota Lamongan dan Penyemayaman Lambang Daerah di Pendapa Lokatantra.
Di Gedung DPRD Lamongan, Ketua DPRD Lamongan Makin Abbas melakukan prosesi membuka selubung pataka lambang daerah dilanjutkan dengan Oncer Sesanti Memayu Raharjaning Praja lalu diserahkan kepada Bupati Lamongan Masfuk. Selanjutnya, Bupati, Wakil Bupati Tsalits Fahami dan Sekkab Fadeli bersama muspida berjalan kaki mengiringi lambang daerah menuju lapangan upacara alun-alun Kota Lamongan.
Masfuk menginginkan agar momentum peringatan Hari Jadi ke-440 Lamongan bisa memberi makna lebih, tidak hanya sebatas peringatan seremonial semata. Makna lain itu berarti membangkitkan rasa optimisme dan percaya diri dengan terus berusaha mengejawantahkannya dengan kerja keras dan doa. Kerja keras dan doa itulah sesungguhnya cikal bakal daerah ini dibangun, katanya.
Di usia ke-440 tahun Lamongan, beberapa keberhasilan pemerintah bersama masyarakat telah diwujudkan. Di Lamongan, penurunan angka kemiskinan tertinggi di Jawa Timur yakni mencapai 24,25 persen. Pendapatan perkapita masyarakat naik menjadi Rp 5,6 juta pada 2008. Meski demikian, sektor pembangunan infrastruktur seperti jalan poros desa tetap menjadi komitmen pemerintah untuk dituntaskan, paparnya.
Prosesi penyemayaman lambang daerah di Pendapa Lokatantra setempat ditandai dengan pelepasan Oncer Sesanti Memayu Raharjaning Praja dan penutupan selubung lambang daerah oleh Ketua DPRD. Sebelumnya, prosesi di pendapa diisi dengan pembacaan sejarah HJL oleh sesepuh Lamongan, Sudikno. Semangat Hari Jadi ke-440 Lamongan diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi dan pencapaian kemajuan Lamongan secara menyeluruh, dan merata. Esensi akhirnya kesejahteraan masyarakat harus tetap dikedepankan. Selamat hari jadi ke-440.
Dengan prosesi hari jadi lamongan yang ke-440 dan dirayakan dengan festival budaya semoga menjadi daya tarik wisata...ini lamongan bung..!!! kota yang bersahabat dan memikat..!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan untuk mengisi komentar demi perbaikan selanjutnya